YOGYA – Semestinya, bulan Januari hingga Februari 2022 menjadi puncak musim hujan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Akan tetapi nyaris satu pekan ini cuaca di DIY sangat panas, bahkan cuaca panas itu dirasakan hingga di dalam rumah.

Seorang warga asal Sleman, Fauzan, mengatakan cuaca panas di tengah musim hujan cukup menguntungkan bagi dirinya, sebab dia tidak waswas bekerja ketika turun hujan.


Namun rasa gerah yang ditimbulkan akibat cuaca panas kali ini membuat dirinya merasa tidak nyaman, sebab suhu yang dirasakan menurutnya berbeda dengan suhu panas pada musim kemarau.

“Sudah dari kemarin kan panas. Padahal ya harusnya sudah memasuki puncak musim hujan. Tapi panas sekarang itu juga terasa di dalam rumah. Kalau di dalam rumah itu sekarang terasa sumuk (gerah),” katanya

 

Merespon hal ini, Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Badan Meteorologi Kimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menjelaskan periode Januari merupakan puncak musim hujan.

Bahkan Staklim BMKG Yogyakarta memprediksikan puncak musim hujan itu akan berlangsung sampai Februari 2022.

“Namun tidak berarti bahwa sepanjang hari di Januari sampai Februari hujan terus. Adakalanya cuaca di DIY cerah berawan. Itu suatu hal yang lumrah untuk saat ini,” jelasnya.

Cuaca panas di tengah puncak musim hujan ini menurutnya tergantung dinamika atmosfer yang mempengaruhi terjadinya hujan.

“Dan untuk saat ini dinamika atmosfer mendukung potensi cuaca di DIY cerah berawan meski seharusnya masuk musim hujan. Kami perhatikan beberapa hari lalu cuaca cerah berawan,” terang dia.

Mereka memprediksikan cuaca cerah berawan di DIY dapat berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

Penyebabnya berdasarkan hasil analisa BMKG saat ini muncul sirkulasi atmosfir berupa Eddy atau putaran angin yang terjadi di sebelah barat wilayah Kalimantan.

“Kemungkinan tiga hari masih seperti ini. Karena saat ini muncul Eddy atau pusaran angin yang terpantau di sebelah barat Kalimantan,” ujarnya.

Munculnya Eddy ini menyebabkan pasokan uap air dari benua Asia menuju Indonesia terutama di wilayah Jateng dan DIY menjadi berkurang.

“Karena pasokan uap air itu terhalang oleh Eddy. Harusnya masuk normal untuk Jateng dan DIY, tetapi ini tidak,” jelasnya.

 

Tribunjogja.com |Bramsto Adhy

Faktor lainnya mengapa intensitas hujan pada puncak musim hujan saat ini berkurang lantaran dipicu kondisi dinamika atmosfer wilayah DIY tidak memungkinkan menumbuhkan awan-awan hujan.

Jika diamati, lanjut Reni, tingkat kelembapan udara dilapisan 700 ml/bar itu hanya berkisar antara 50 hingga 60 persen.

“Padahal dalam musim hujan seperti ini jika monsun asia aktif, kelembapan disekitar 700 mili per bar itu bisa mencapai sekitar 80 persen atau lebih. Jadi sangat lembab sekali. Nah, ini kalau kami pantau kering sekali. Sehingga pembentukan awan hujan juga sulit,” ujarnya.

Dia menegaskan, cuaca panas saat musim hujan saat ini sifatnya hanya sementara.

Ketika sirkulasi Eddy di Kalimantan sudah selesai, maka angin monsun asia akan masuk ke wilayah Indonesia tak terkecuali DIY dan Jateng.

“Kalau pusaran Eddy sudah tidak ada, kemudian Monsun Asia akan masuk, dan nanti akan turun hujan seperti biasa di musim hujan,” terang dia.

Hal yang perlu diwaspadai oleh masyarakat, dijelaskan Reni apabila pusaran Eddy di Kalimantan sudah tidak ada, sangat dimungkinkan akan terjadi hujan ekstrim di wilayah DIY.

 

Pemicu lainnya, dikatakan Reni juga datang dari kondisi suhu permukaan laut selatan DIY yang berdasar pengamatannya masih cukup hangat antara 29 hingga 30 derajat celcius.

“Bisa dimungkinkan terjadi hujan ekstrim, karena kami lihat suhu permukaan laut masih cukup hangat yakni 29 sampai 30 derajat celcius. Ini mendukung untuk terbentuknya penguapan signifikan, sehingga terbentuknya awan-awan hujan sangat efektif,” terang dia.

Reni mengimbau kepada masyarakat agar lebih waspada untuk beberapa hari ke depan terkait perubahan cuaca yang terjadi.

 

 

sumber : [ TribunJogja.com | Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni ]