GUNUNGKIDUL - Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul belum lama ini meluncurkan program Si Dewi Sintal.

Program yang merupakan akronim dari Sinergi Desa Wisata Promosi melalui Media Digital mendorong desa wisata meningkatkan promosinya melalui media sosial.

Kepala Dispar Gunungkidul, Asti Wijayanti, mengatakan program Si Dewi Sintal ini berpeluang menciptakan inovasi lain. Salah satunya konsep Wisata Virtual (Virtual Tour).

 

"Mudah-mudahan Si Dewi Sintal ini bisa membantu sampai Virtual Tour tersebut," kata Asti, Minggu (22/08/2021).

Ia mengakui konsep Virtual Tour tidaklah murah karena membutuhkan berbagai teknologi pendukung.

Meski demikian, ia tetap berharap konsep tersebut bisa diwujudkan lewat program Si Dewi Sintal tersebut.

Si Dewi Sintal saat ini juga sedang dalam proses pembangunan sistem.

Asti mengatakan program ini baru terbatas pada 12 desa wisata yang sudah memiliki ketetapan berupa Surat Keputusan (SK) Bupati.

"Kami kerjasama dengan perguruan tinggi juga untuk pengembangan tersebut," jelasnya.

Lewat program ini, Desa Wisata didorong mampu secara mandiri mempromosikan potensi wilayahnya mengandalkan media sosial.

Pendampingan dan pelatihan pun sudah dilakukan sejak awal Agustus ini.

 

Sekretaris Dispar Gunungkidul, Harry Sukmono, mengungkapkan konsep Virtual Tour pernah dicoba saat awal pandemi COVID-19 pada 2020 lalu.

Destinasinya antara lain Desa Wisata Nglanggeran serta titik-titik Geosite Gunung Sewu.

"Bentuknya berupa video, foto disertai narasi lewat aplikasi," jelas Harry pada wartawan belum lama ini.

Adapun mekanismenya, pengguna aplikasi mendapatkan informasi lengkap seputar destinasi yang ditawarkan sekaligus "berkunjung" secara virtual. Aplikasinya pun bisa didapatkan secara gratis.

Meski sudah cukup representatif, Harry mengakui konsep Virtual Tour tersebut sepi peminat.

Pasalnya, program tersebut hanya diminati oleh wisatawan dari segmen tertentu.

"Saat ini belum ada rencana untuk kembali melakukan Virtual Tour," ungkapnya.

Menurut Harry, keputusan itu diambil mengingat tidak ada perputaran ekonomi di kawasan wisata dengan konsep tersebut. Apalagi pengunjung juga tidak datang langsung ke lokasi wisata.(*)

 

 

[ sumber : jogja.tribunnews.com | Penulis: Alexander Aprita | Editor: Muhammad Fatoni ]