YOGYA - Kepala Dishub DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti menuturkan, pada 2017 lalu, Pemkot Yogyakarta telah diminta untuk melengkapi infrastruktur penunjang moda transportasi sepeda. Misalnya pengadaan marka jalan dan rambu-rambu.

Namun menurut Made, karena jalur sepeda hanya menggunakan marka, maka penerapannya kurang berjalan efektif. Bahkan kendaraan bermotor banyak yang mengabaikan keberadaan garis marka untuk sepeda.

"Karena tidak berbentuk fisik, bentuknya hanya marka, jadi kurang begitu berefek, ya," terangnya, Senin (7/6/2021).

Karenanya, Dishub DIY akan segera mengkaji ruas-ruas jalan mana saja yang bisa disediakan jalur khusus sepeda. Namun upaya itu diakuinya tak mudah karena kondisi jalanan di DIY. Made pun meminta masyarakat memahami kondisi jalan-jalan di DIY yang tergolong sempit. Sehingga pengendara harus rela berbagi jalan.

Harapannya, polemik pesepeda road bike seperti yang terjadi di DKI Jakarta tak ditemui di DIY.

"Jalur sepeda tidak harus besar sepanjang para pesepeda tidak usah berombongan ke samping. Kalau itu kan menghabiskan space (ruang)," imbuhnya.

"Edukasi masyarakat yang penting. Sepeda itu kan bukan kencangnya. Kalau mau kencang ya tidak di jalan umum tapi di tempat lain. Atau mungkin saat momen khusus yang situasinya sudah dikondisikan," tambahnya.

Lebih jauh, Made mengaku akan segera menggelar pertemuan dengan para kadishub kabupaten/kota untuk membahas realisasi transportasi yang nyaman serta ramah lingkungan di DIY. Di dalamnya juga akan dilakukan pembahasan terkait infrasturktur sepeda di luar wilayah Kota Yogyakarta.

"Kami ingin menyediakan transportasi yang nyaman dan saling berkesinambungan antarkabupaten kota. Kita ingin DIY menjadi kota nyaman huni. Salah satunya juga dipengaruhi keberadaan angkutan umum dan tidak bermotor, termasuk sepeda," paparnya.

Made berharap agar ada kesinambungan antara moda transportasi umum di DIY. Sehingga pengguna sepeda dapat memanfaatkan transportasi umum jika jarak yang ditempuh terlalu jauh.

"Kita sudah inisiasi, moda sepeda ini sudah tersambung (dengan angkutan umum). Kita ada rak sepeda di halte Trans Jogja. Tapi respons masyarakat kurang jadi perlu kita evaluasi lagi," imbuhnya.

Pada prinsipnya infrastruktur yang dibangun harus bisa memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memanfaatkan segala moda transportasi publik yang ada.

"Kalau mereka jaraknya jauh bisa titip di simpul seperti di park and ride atau terminal kemudian lanjut angkutan umumnya," jelasnya.

Namun untuk mewujudkan hal tersebut, perlu dilakukan kajian secara lebih mendalam. Selain itu, kondisi dan situasi antarwilayah pun juga berbeda. Sehingga pelaksanaannya tidak bisa dilakukan secara serentak.

"Kita harus identifikasi dulu," tambahnya. (tro)

 

[ sumber : jogja.tribunnews.com | Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Agus Wahyu ]