Hari ini satu tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Mei 2020, seniman Didi Kempot meninggal dunia di RS Kasih Ibu, Solo, Jawa Tengah. Dokter yang menangani Didi Kempot, Divan Fernandez, menyatakan penyanyi campursari itu meninggal dunia karena henti jantung.

Didi Kempot dikenal di kalangan generasi tua sebagai maestro campursari, namun baru dikenal di kalangan generasi muda beberapa tahun terakhir sebagai The Godfather of Broken Heart atau Bapak Patah Hati Nasional.

Para penggemarnya merupakan para Sobat Ambyar. Mereka punya julukan untuk diri mereka sendiri, yaitu Sad Boy untuk penggemar laki-laki, dan Sad Girl untuk mereka yang perempuan. Kepergian Didi Kempot menjadi duka bagi para masyarakat Indonesia dan bahkan luar negeri. Nama Didi Kempot bahkan masuk ke peringkat ke-2 di daftar "Kepergian Tokoh" yang paling dicari di Google (Year in Search 2020).

Memiliki darah seni yang kental

Warga mengusung poster ucapan duka cita untuk mengenang penyanyi campursari Dionisius Prasetyo atau Didi Kempot yang meninggal dunia di Solo, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2020). Didi Kempot meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Selasa (5/5/2020), dan rencananya akan dimakamkan di tempat kelahiran Ngawi, Jawa Timur.(ANTARA FOTO/MAULANA SURYA)

Didi Kempot bernama lengkap Dionisius Prasetyo dan lahir pada 21 Desember 1966. Dia meninggal pada usia 53 tahun. Dia merupakan anak dari seorang seniman tradisional terkenal bernama Ranto Edi Gudel atau lebih dikenal dengan nama Mbah Ranto.

Didi lahir dari keluarga yang memiliki darah seni yang kental. Selain sang Ayah yang merupakan seniman, kakak Didi Kempot bernama Mimiek Prakoso merupakan seorang pelawak senior Srimulat.

Didi Kempot memulai kariernya sebagai musisi jalanan di Surakarta sejak 1984 hingga 1986. Lalu pada 1987 sampai 1989, ia mengadu nasib ke Jakarta. Nama panggungnya, Didi Kempot, merupakan singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar, grup musik asal Surakarta yang membawa ia hijrah ke Jakarta.

Pada 1993, penyanyi asal Solo tersebut mulai tampil di luar negeri, tepatnya di Suriname, Amerika Selatan. Tak lama setelahnya, Didi Kempot lanjut menginjakkan kakinya di benua Eropa.

 

Semakin populer

Pada 1996, ia mulai menggarap dan merekam lagu berjudul "Layang Kangen" di Rotterdam, Belanda. Tak lama setelah pulang kampung, pada era reformasi, dia mengeluarkan lagu "Stasiun Balapan", salah satu lagunya yang paling legendaris.

Kembalinya Didi Kempot ke Indonesia ternyata membuat kariernya semakin populer. Namanya kembali meroket setelah mengeluarkan lagu "Kalung Emas" pada 2013 lalu. Pada 2016, penyanyi asal Solo tersebut mengeluarkan lagu "Suket Teki". Lagu tersebut juga mendapatkan apresiasi yang tinggi dari warga Indonesia.

 

Ratusan lagu Didi Kempot

Musisi yang telah menciptakan ratusan judul lagu ini mengaku senang menciptakan senandung dan lirik yang mengisahkan patah hati. Lagu tersebut antara lain Stasiun Balapan, Sewu Kutho, Taman Asmoro, Banyu Langit, Suket Teki, Pamer Bojo, dan lain-lain. Dia mengaku senang menulis lagu-lagu semacam itu. “Kayaknya kalau ngambil lagu tema-tema semacam gitu, itu untuk booming-nya lebih cepat karena banyak yang mengalami patah hati daripada yang tidak,” ujar Didi Kempot sambil tertawa saat dtanya oleh Gofar Hilman, di acara Ngobam Didi Kempot, pertengahan 2019 silam.

 

Kisah sakit hati

Menurut Didi, pemilihan tema tersebut sengaja dilakukan karena akan terasa dekat dengan pendengar yang pasti pernah mengalami apa yang ia tuliskan. Baginya, lagu berisikan kisah sakit hati tidak menjadi masalah selama sakit hati itu bisa dinikmati bersama-sama dan bisa memberikan hiburan tersendiri. Meski terkenal sebagai pencipta lagu patah hati, ternyata sang maestro tembang Jawa ini pernah juga menciptakan lagu yang mengisahkan tentang kebahagiaan.

Lagu itu berjudul Podo Indonesiane. Secara umum lagu itu menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia yang harus hidup dalam kerukunan, apa pun yang terjadi. Saking banyaknya lagu yang ia ciptakan, Didi Kempot bahkan mengaku tidak tahu persis berapa banyak jumlah lagu yang telah ia ciptakan.

“Ah lali (lupa) aku, ya mungkin ada 700 sampai 800 lagu,” kata dia.

Setidaknya, ada 23 album yang pernah ia keluarkan. Atas karya-karyanya ini, Didi Kempot telah memperoleh banyak penghargaan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Penyanyi Terbaik, Anugerah Musik Indonesia 2001
  • Lagu Dangdut Etnik Terbaik, Anugerah Dangdut TPI, 2002
  • Karya Produksi Tradisional Terbaik, Anugerah Musik Indonesia, 2003
  • Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah Terbaik, Anugerah Musik Indonesia, 2010
  • Solo, Duo/Grup Dangdut Berbahasa Daerah, Anugerah Musik Award, 2013
  • Penghargaan Khusus Maestro Campursari, Indonesian Dangdut Award, 2019

Selain itu, ia juga telah berkali-kali dinominasikan dalam berbagai ajang penghargaan. 

 

 

[ sumber : Kompas.com | Penulis : Nur Fitriatus Shalihah | Editor : Sari Hardiyanto ]