Mungkinkah manusia bisa hidup di dunia baru di luar angkasa? Pertanyaan ini setidaknya menjadi PR terbesar bagi para ilmuan, khususnya mereka yang berkecimpung di dunia astronomi. Penelitian bertahun-tahunpun dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut, mengingat luas tata surya yang tidak bisa dihitung secara matematis, sangat tidak menutup kemungkinan adanya alam lain yang bisa di huni manusia.


 skyworldindonesia.blogspot.co.id

Selama ini, hipotesis yang paling memungkinan adanya alam lain untuk menjadi lahan kehidupan manusia di luar bumi ialah di planet Mars. Setidaknya para ilmuan dan peneliti tata surya mencoba menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang kondisi planet mars yang mengindikasikan bisa dihuni oleh manusia.
Meskipun sampai saat ini para ilmuan belum menemukan titik terang, hanya asumsi dan sedikit bukti adanya kehidupan di mars dengan adanya bakteri dan kelembaban air, para ilmuan belum memastikan secara jelas apakah planet yang masih dalam satu galaksi dengan bumi tersebut bisa dihuni atau tidak.


 langitselatan.com

Disaat para ilmuan fokus pengembangan penelitian terhadap Mars, penemuan mengejutkan justru didapatkan dari kumpulan bintang lain di luar galaksi bima sakti. Titik terang adanya kehidupan di alam lain selain di bumi, justru diduga kuat ada di gugusan bintang yang kemudian dikenal dengan TRAPPIST-1. Gugusan bintang yang terdiri dari satu bintang induk dan tujuh planet tersebut disinyalir kondisinya menyerupai bumi, bahkan 3 planet diantaranya diyakini mengandung cairan yang menyerupai air.
Penemuan yang diperoleh oleh badan antariksa Amerika Serikat (NASA) ini, merupakan penemuan terpenting bagi dunia antariksa di abad 20 ini. Menariknya dari penemuan ini ialah para astronom meyakini jika planet di gugusan bintang ini sangat mirip dengan bumi, baik kondisi keadaannya maupun ukuran dari planet tersebut.


 i.ytimg.com

Induk gugusan bintang ini juga relatif lebih mudah, yaitu sekitar berumur 500 juta tahun dan masih akan menyala sampai 10 trilyun tahun lagi. Usia bintang indung di TRAPPIST-1 disinyalir lebih lama dibandingkan dengan matahari, sebab matahari diperkirakan hanya bisa menyala selama 5 milyar tahun. Selain itu, jarak gugusan bintang TRAPPIST-1 tidaklah jauh dari galaksi bima sakti, yaitu hanya sekitar 40 tahun cahaya.
Fakta-fakta yang bisa kita kumpulkan dari penemuan ini ialah, gugusan bintang TRAPPIST-1 merupakan gugusan bintang yang terdiri dari bintang induk dan dikelilingi 7 planet. Ketujuh planet tersebut memiliki keadaan yang aman bagi makhluk hidup, baik keadaan panas maupun dinginnya tidak begitu ekstrim.


 vice.com

Tiga diantaranya bahkan diyakini bisa dihuni, dengan kondisi planet meyerupai bumi, baik masa orbit, ukuran planet, maupun jarak antara planet dengan bintang induknya tidaklah jauh berbeda dengan kondisi planet bumi kita. Namun meskipun keyakinan atas potensi kehidupan di gugusan bintang TRAPPIST-1 sudah banyak diyakini para ilmuan, namun untuk mencapai ke gugusan bintang tersebut perlu menggunakan pesawat yang super canggih dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya.


 kuatbelajar.top

Sebab, jika pesawat memiliki kecepatan seperti cahaya saja butuh waktu selama 40 tahun. Artinya hampir satu generasi usia manusia dibutuhkan untuk mencapai ke planet-planet tersebut. Namun meskipun demikian penemuan ini merupakan titik terang atas jawaban manusia saat ini dengan pertanyaan apakah ada alam lain selain di bumi yang bisa dihuni. Tidak menutup kemungkinan planet-planet tersebut bisa menjadi habitat mahkluk hidup di generasi masa depan.

[sumber : inovasee]