Proses vaksinasi COVID-19 bagi para tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Gunungkidul masih berjalan.
Namun baru separuh dari keseluruhan peserta yang menerima vaksin pertama, setelah kick-off pekan lalu.

Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawaty menyampaikan hingga Selasa (02/02/2021), sebanyak 1.494 nakes sudah menerima vaksin dosis pertama.

"Ada 106 peserta yang batal menerima suntikan pertama tersebut," kata Dewi lewat pesan singkat sore ini.

Batalnya 106 peserta tersebut karena tak memenuhi persyaratan saat proses seleksi manual.
Sesuai prosedur, peserta yang akan menerima vaksin harus menjalani pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu.
Adapun sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi antara lain belum pernah terinfeksi COVID-19, tidak memiliki penyakit penyerta (komorbid), serta tidak sedang hipertensi.

Vaksin jenis Sinovac ini hanya diperuntukkan bagi umur 18-59 tahun.
Dinkes sendiri mengerahkan sebanyak 80 orang petugas pemberi vaksin (vaksinator).
Dewi menyampaikan proses vaksinasi dilaksanakan di 39 fasilitas kesehatan (faskes) dalam wilayah Kabupaten Gunungkidul.

"Sampai saat ini tidak ada laporan mengenai kendala atau gangguan dari pelaksanaan vaksinasi," ungkapnya.

Sesuai data yang diajukan, pada tahap pertama ini total sebanyak 3.004 nakes akan menerima vaksin.
Setidaknya ada 4 kelompok masyarakat yang menerima vaksin secara bertahap.

Dinkes Gunungkidul menargetkan vaksinasi tahap pertama ini selesai menjelang akhir bulan Februari.
Adapun vaksin diberikan sebanyak 2 dosis tiap peserta, dengan jarak per dosis selama 14 hari.

"Sudah diatur waktunya, Insya Allah sebelum tutup bulan Februari semua sudah mendapat 2 suntikan," kata Dewi.

Sebelumnya, Kabid Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinkes Gunungkidul, Abdul Azis mengatakan di tahap pertama ini ada sebanyak 5.544 dosis vaksin Sinovac yang diterima.
Logistik vaksin dikirim oleh Dinkes DIY dan diterima Dinkes Gunungkidul pada 25 Januari silam.
Sehari berikutnya, logistik vaksin langsung didistribusikan ke seluruh faskes yang melaksanakan vaksinasi.

"Penyimpanan dan proses distribusi dilakukan dengan penanganan khusus demi menjaga rantai dingin (cold chain) vaksin," jelas Abdul.



 

[ sumber : jogja.tribunnews.com | Penulis : Alexander Aprita | Editor : Kurniatul Hidayah ]