Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berharap proses pembebasan lahan untuk jalan baru ruas Prambanan - Tawangalang, yang menghubungkan dua kabupaten yakni Sleman dan Gunungkidul bisa berlangsung cepat.
Sembari menanti proses pembebasan lahan di Kabupaten Sleman, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP ESDM) DIY akan memulai pembangunan konstruksi jalan di tahun 2021 khusus di Tawangalang, Kabupaten Gunungkidul.

Kabid Bina Marga DPUP ESDM DIY Bambang Sugaib saat dikonfirmasi menyampaikan proses pembangunan dilakukan secara bertahap. Ia menjelaskan, total jalan baru tersebut sepanjang 28 kilometer, dengan rincian sepanjang 9 kilometer di ruas Gading, Kabupaten Gunungkidul telah terselesaikan pada 2018 lalu.
Sehingga DPUP ESDM harus menyelesaikan sekitar 19 kilometer lainnya yang terbagi antara Prambanan-Gayam dan Tawangalang-Gading.

"Saat ini masih fokus di Kabupaten Sleman untuk pembebasan lahan. Respon masyarakat di sana sangat mendukung. Karena itu berada di lahan yang tidak produktif," katanya,

Lebih lanjut, Bambang menjelaskan, anggaran yang digunakan untuk pembangunan ruas Prambanan-Gayamharjo beserta 14 jembatan yang menyertai sebesar Rp550 miliar, sementara untuk ruas Tawangalang biaya pembangunan sesuai Detail Engineering Desaign (DED) mencapai Rp275 miliar.

"Kalau sesuai DED yang ruas Prambanan-Gayam itu sekitar Rp550 miliar, karena di sana juga ada 14 jembatan yang akan dibangun," sambungnya.

Diperkirakan jalur baru Prambanan-Tawangalang tersebut akan dimunculkan jembatan yang ikonik yakni Sembada Handayani.
Nama tersebut, lanjut Bambang, sengaja diberikan karena menyesuaikan dengan fungsi jalan itu sendiri yakni menghubungkan dua wilayah Kabupaten Sleman dan Gunungkidul yang memiliku semboyan Sleman Sembada dan Gunungkidul Handayani.
Bambang mengatakan, nama tersebut langsung diberikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, meski pembangunannya baru akan direncanakan.

"Itu pemberian langsung dari ngarso dalem. Sesuai namanya itu kan penghubung antara Sleman dengan Gunungkidul," ungkapnya.

Secara fungsi, menurut Bambang dapat mengurai kemacetan dan menyingkat waktu tempuh.
Pasalnya, jalur Yogyakarta-Wonosari via Piyungan-Patuk menurut dia sudah terlalu overload dan ketika hari libur selalu alami peningkatan volume kendaraan.

 

[ sumber : Tribunjogja.com  ]
Penulis: Miftahul Huda
Editor: Iwan Al Khasni